بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِوَبَرَكَاتُهُ
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِوَبَرَكَاتُهُ
Ditulis Oleh Al Ustadz Abu Utsman Kharisman
Disunnahkan
saat menyembelih binatang untuk ‘aqiqoh dengan membaca:
بِسْمِ اللهِ ، اللَّهُ
أَكْبَرُ ، اللَّهُمَّ مِنْكَ وَلَكَ ، هَذِهِ عَقِيقَةُ فُلاَن
Bismillah
Allahu Akbar Allaahumma minka wa laka, haadzihi ‘aqiiqotu fulaan (Dengan Nama
Allah, Allah adalah Yang Terbesar, Ya Allah ini dariMu dan untukMu. Ini adalah
aqiqoh fulaan)
Penyebutan ‘fulaan’ itu diganti dengan nama anak yang diaqiqohi tersebut.
Penyebutan ‘fulaan’ itu diganti dengan nama anak yang diaqiqohi tersebut.
Hal
ini sesuai hadits yang diriwayatkan al-Baihaqy dalam as-Sunan al-Kubro dan Abu
Ya’la dalam Musnadnya:
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ
: يُعَقُّ عَنِ الْغُلاَمِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ ، وَعَنِ الْجَارِيَةِ شَاةٌ ،
قَالَتْ عَائِشَةُ : فَعَقَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم عَنِ
الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ شَاتَيْنِ شَاتَيْنِ يَوْمَ السَّابِعِ ، وَأَمَرَ أَنْ
يُمَاطَ عَنْ رَأْسِهِ الأَذَى وَقَالَ : اذْبَحُوا عَلَى اسْمِهِ وَقُولُوا
بِسْمِ اللهِ ، اللَّهُ أَكْبَرُ ، اللَّهُمَّ مِنْكَ وَلَكَ ، هَذِهِ عَقِيقَةُ
فُلاَنٍ
Dari
Aisyah –radhiyallahu anha- beliau berkata: Anak laki-laki diaqiqohi dengan dua
kambing yang setara. Dan anak perempuan satu kambing. Aisyah berkata:
Rasulullah shollallahu alaihi wasallam mengaqiqohi al-Hasan dan al-Husain
masing-masing dua kambing pada hari ketujuh (kelahiran). Beliau memerintahkan
agar pada kepala anak itu dihilangkan kotoran. Dan beliau bersabda: Sembelihlah
dengan (juga) menyebut nama (anak yang akan diaqiqahi). Ucapkan: Bismillah
Allahu Akbar Allaahumma minka wa laka, haadzihi ‘aqiiqotu fulaan (Dengan Nama
Allah, Allah adalah Yang Terbesar, Ya Allah ini dariMu dan untukMu. Ini adalah
aqiqoh fulaan).
Hadits
ini dishahihkan oleh Ibnus Sakan dan dinyatakan sanadnya hasan oleh anNawawiy
dalam al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab. Diriwayatkan juga oleh Ibnul Mundzir dan
dinyatakan hasan.
Hal
ini juga ditunjang oleh pendapat seorang Tabi’i Qotadah, yang menyatakan:
يُسَمِّى عَلَى
الْعَقِيقَةِ كَمَا يُسَمِّى عَلَى الأُضْحِيَّةِ : بِسْمِ اللهِ ، عَقِيقَةُ
فُلاَنٍ
Mengucapkan
bismillah saat (akan menyembelih) aqiqoh sebagaimana mengucapkan bismillah pada
binatang kurban, dengan mengucapkan: Bismillah, aqiqoh fulaan (riwayat Ibnu Abi
Syaibah dengan sanad yang shahih, para perawinya adalah rijal al-Bukhari dan
Muslim)
Al-Imam
Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah juga menyebutkan pendapat ini adalah pendapat al-Imam
Ahmad dalam Tuhfatul Mauduud fii Ahkaamil Mauluud:
ولهذا يستحب أن يقال
عليها ما يقال على الأضحية قال أبو طالب سألت أبا عبد الله إذا أراد الرجل أن يعق
كيف يقول قال يقول باسم الله ويذبح على النية كما يضحي بنيته يقول هذه عقيقة فلان
بن فلان ولهذا يقول فيها اللهم منك ولك ويستحب فيها ما يستحب في الأضحية
Karena
itu, disunnahkan untuk mengucapkan seperti yang diucapkan pada saat
penyembelihan kurban. Abu Tholib berkata: Aku bertanya Abu Abdillah (Ahmad bin
Hanbal): Jika seorang ingin (menyembelih) aqiqoh, apa yang dibacanya? Beliau
menjawab: Ia mengucapkan Bismillah dan menyembelih dengan (menyebut niat). Ia
berkata: Ini adalah aqiqoh fulaan bin fulaan. Karena itu saat menyembelih itu
ia mengucapkan: Allaahumma minka wa laka ( Ya Allah ini adalah dariMu dan
untukMu). Disukai melakukan padanya (aqiqoh) sebagaimana disukai melakukannya
pada penyembelihan binatang kurban (Tuhfatul Mauduud fii Ahkaamil
Mauluud(1/70)).
Namun
kalaupun seseorang hanya mengucapkan Bismillah saat menyembelih aqiqoh dan
tidak melafadzkan niat bahwa aqiqoh ini dari anak tertentu, maka yang demikian
tidak mengapa.
Ibnul
Mundzir menyatakan:
وإن نوى العقيقة ولم
يتكلم به أجزأه إن شاء الله
Jika
dia berniat aqiqoh dan tidak mengucapkannya maka yang demikian sudah cukup
baginya InsyaAllah (Tuhfatul Mauduud fii Ahkaamil Mauluud (1/93)).
Catatan
: hadits Aisyah di atas memiliki ‘illat karena mayoritas jalur periwayatan
mengandung ‘an-anah dari Ibnu Juraij, hanya periwayatan dari Ibnu Hibban dalam
Shahihnya yang tidak. Ibnu Juraij, meski beliau adalah rijaal al-Bukhari dan
Muslim namun beliau dikenal sebagai mudallis. Namun, riwayat ini insyaAllah
bisa dikuatkan dengan riwayat yang shahih maqthu’ dari Qotadah. Ibnu Abi
Syaibah meriwayatkan 2 jalur periwayatan dari Qotadah, yang salah satu sanadnya
shahih. Syaikh al-Albany dalam kitab Qishshotul Masiihid Dajjaal (1/99)
mengisyaratkan bahwa riwayat shahih maqthu’ dari Tabi’i hukumnya adalah marfu’
mursal.
No comments:
Post a Comment